Skip to main content

Search This Blog

Cara Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Yang Baik dan Benar Agustus 2018

Tips dan Cara Sukses Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Agar Panen Melimpah – Lele sangkuriang (Clarias sp.) adalah jenis lele baru yang dirilis tahun 2004 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI dibudidayakan masyarakat Indonesia. Merupakan keturunan lele dumbo yang sudah mengalami perbaikan genetik melalui perkawinan silang-balik (backcross) antara induk betina generasi kedua (F2) dengan pejantan generasi keenam (F6), pada tahun 2000. Nama sangkuriang diambil dari legenda masyarakat Sunda, pemuda sangkuriang yang menikahi ibu kandungnya Dayang Sumbi. Proses kelahiran lele sangkuriang mirip dengan legenda itu, yaitu hasil perkawinan antara ibu dengan anak lelakinya. Induk betina generasi kedua (F2) merupakan koleksi Balai Besar Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi dan berasal dari keturunan kedua lele Dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan (F6) merupakan keturunannya sebagai sediaan induk yang ada di BBPBAT Sukabumi. Ciri morfologisnya identik dengan lele dumbo sehingga sulit dibedakan. Warna punggungnya hitam kehijauan dan warna perut putih kekuningan.

Lele sangkuriang memiliki laju pertumbuahn yang cepat menyamai lele dumbo ketika pertama kali dimasukkan ke Indonesia. Juga dinyatakan sebagai jenis lele yang memiliki daya tahan lebih baik terhadap serangan penyakit bakterial yang bisa menyerang ikan jenis lele-lelean. Tingkat fekunditas telur tinggi mencapai 40.000-60.000 butir/kg induk. Derajat penetasan telurnya pun cukup tinggi yakni 90% (lele dumbo 80%). Berdasarkan hasil penelitian BBPBAT (Anonim, 2007), pertumbuhan lele sangkuriang pada saat pendederan dan pembesaran juga lebih cepat dibandingkan dengan lele dumbo. Konversi pakannya pun relatif lebih baik yakni 0,8-1. Hal tersebut menunjukan bahwa selain mampu tumbuh lebih cepat, lele sangkuriang dapat memanfaatkan pakan secara lebih efisien. Perlu diketahui, benih hasil pemijahan induk lele sangkuriang hanya dapat digunakan untuk produksi ikan konsumsi, dan tidak direkomendasikan untuk dijadikan induk kembali karena kualitas keturunannya akan menurun.


Sifat biologisnya juga relatif sama dengan lele dumbo. Termasuk ikan omnivora atau pemakan segala yang cenderung menyukai hewan-hewan (cenderung karnivora). Jenis makanannya berbagai serangga air, plankton, siput, kepiting, udang, dan invertebrata lainnya. Lele sangkuriang juga menyukai limbah peternakan (bangkai ayam) dan limbah rumah tangga. Apabila dibudidayakan, sangat responsif terhadap pakan buatan berupa pelet. Ikan ini cenderung berperilaku sebagai predator atau suka memangsa terutama ikan yang lebih kecil (stadium benih). Jika dipelihara di kolam, tidak memerlukan kualitas air yang baik, seperti air mengalir atau air jernih, sebab ikan ini memiliki alat pernapasan tambahan berupa aborescent.

 

1. Teknologi Pembenihan.

Karena berasal dari satu keturunan, pembenihan lele sangkuriang dapat dilakukan dengan meniru teknik pembenihan lele dumbo. Jika sebelumnya pembenihan sudah sukses melakukan pembenihan lele dumbo, tentu akan sangat mudah melakukan pembenihan lele sangkuriang.

a. Penyiapan Kolam Induk.

Kolam yang digunakan untuk pemeliharaan induk bisa berupa kolam permanen atau kolam tanah. Atau kolam dengan dasar tanah dan dinding permanen. Luas kolam induk dapat disesuaikan dengan lahan yang tersedia serta jumlah induk yang dipelihara. Semakin banyak induk yang dipelihara, semakin luas kolam yang dibutuhkan agar induk merasa nyaman dan mendapat ruang yang cukup. Kondisi kolam harus baik dan tidak bocor, serta dapat menampung air setinggi 60-100 cm. Kolam perlu dilengkapi saluran air masuk dan keluar untuk memudahkan pengeringan dan pengisian air kolam. Pengeringan atau pengurangan air kolam diperlukan untuk memudahkan penangkapan induk.

Kolam induk jantan harus dipisahkan dengan kolam induk betina untuk menghindari terjadinya pemijahan liar dan mempercepat proses pematangan gonad (telur atau sperma). Penebaran induk dilakukan setelah persiapan kolam selesai dilakukan. Persiapan kolam induk mencakup kegiatan memeriksa kondisi tanggul, membersihkan kolam dari kotoran, menutup pintu pengeluaran, dan membuka pintu pemasukan air. Kemudian air dialirkan ke kolam dan dibiarkan mencapai ketinggian 60-100 cm. Agar tidak stres, induk ditebar pada saat kondisi suhu udara dan air masih rendah (pagi atau sore hari), dan harus dilakukan secara hati-hati.

b. Pemeliharaan Induk.

Padat tebar induk harus disesuaikan dengan petunjuk teknik pembenihan, biasanya 5 ekor/m. Artinya, jika luas kolam induk adalah 100m maka induk yang dipelihara di situ tidak lebih dari 500 ekor. Banyak pembenihan yang memilih untuk memelihara induk lebih sedikit (padat tebar lebih rendah) untuk menghindari terjadinya persaingan yang tinggi antar induk yang dapat menyebabkan luka. Agar pertumbuhan badan induk optimal dan proses pematangan gonad berlangsung sempurna, setiap hari induk diberikan pakan tambahan berupa pelet komersial dengan kandungan protein tinggi, yakni 28%. Dosis pemberian pakan adalah 2%-3%/hari dari bobot induk yang dipelihara. Sedangkan frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari., yakni pada pagi, sore, dan malam hari. Selain pakan pelet komersial, induk lele sangkuriang dapat pula diberikan pakan alternatif, seperti limbah peternakan, ikan rucah, keong mas, atau limbah rumah tangga.

c. Memilih Induk Siap Pijah.

Tidak semua induk yang dipelihara di kolam induk dapat dipijahkan. Hal ini sangat tergantung pada kesiapan masing-masing induk. Induk yang benar-benar siap dipijahkan, memiliki ciri-ciri berikut :

Ciri Induk Lele Sangkuriang Jantan dan Betina Yang Siap Dipijahkan
NoUraianJantanBetina
1Umur12-18 Bulan12-18 Bulan
2Berat0,50-0,75 kg0,70-1,0 kg
3KelaminMenonjolTidak Menonjol
4PerutPerut RampingPerut Buncit dan Lembek
5Fekunditas Telur40.000-70.000 Butir/kg
6Diameter1,1-1,4 mm

 

d. Teknik Pemijahan.

Sama seperti lele dumbo, dikenal 3 cara pemijahan lele sangkuriang yaitu pemijahan secara alami, pemijahan semi-alami, dan pemijahan buatan. Pemijahan alami diartikan sebagai pemijahan tanpa rangsangan induk memijah secara alami. Pemijahan semi alami (semi intensif) adalah pemijahan dengan pemberian rangsangan dari kelenjar hipofisis atau hormon Ovaprim, kemudian induk memijah secara alami atau memijah sendiri. Sementara dalam pemijahan buatan (intensif), induk diberi rangsangan atau suntikan kelenjar hipofisis atau hormon Ovaprim, kemudian memijah dengan bantuan manusia.

Pemijahan Alami (Natural Spawning)

Pemijahan secara alami dikenal dengan sebutan natural spawning. Pada teknik pemijahan ini induk-induk dibiarkan memijah dengan sendirinya di kolam pemijahan, dan sama sekali tidak ada campur tangan manusia. Wadah yang digunakan untuk pemijahan alami dapat berupa bak atau kolam permanen dan kolam tanah. Jumlahnya disesuaikan dengan banyaknya induk yang akan dipijahkan. Semakin banyak induk yang dipijahkan maka akan semakin banyak pula wadah pemijahan yang dibutuhkan. Induk-induk yang telah siap pijah, baik jatan maupun betina, dipilih kemudian dimasukkan ke dalam bak atau kolam pemijahan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Pemasukan induk dilakukan pada pagi atau sore pada saat suhu udara dan air mesih rendah agar induk tidak stres. Perbandingan (rasio) antara induk jantan dan betina adalah 1 : 1, artinya 1 ekor induk jantan untuk 1 ekor induk betina. Sebagai tempat menempelkan telur, pada wadah pemijahan dipasang kakaban dari unjuk. Untuk setiap 1 kg induk betina, diperlukan 5 – 7 kakaban berukuran panjang 1 m dan lebar 25 – 50 cm. Pemijahan biasanya terjadi pada malam hari menjelang pagi. Telur hasil pemijahan yang dibuahi akan menempel pada injuk kakaban. Keesokan harinya, induk ikan, baik jantan maupun betina, dapat ditangkap dan dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk seperti semula, dipisahkan antara jantan dan betina. Sementara itu, telur dibiarkan berada di wadah pemijahan untuk ditetaskan atau dipindahkan untuk diteteskan di tempat lain.

Pemijahan Semi-Alami (Induced Spawning)

Pemijahan secara semi-alami (semi intensif) dikenal juga dengan istilah induced spawning. Merupakan kombinasi antara pemijahan buatan dengan pemijahan alami : induk diberi rangsangan atau suntikan kelenjar hipofisis atau hormon Ovaprim, dan selanjutnya dibiarkan berpijah secara alami. Wadah untuk pemijahan berupa bak atau kolam permanen. Induk yang sudah siap pijah baik jantan maupun betina, dipilih dari kolam pemeliharaan induk, selanjutnya ditimbang. Penimbangan induk ini penting untuk mengetahui dosis penyuntikan kelenjar hipofisis atau hormon. Sebagai tempat menempelkan telur, pada wadah pemijahan perlu dipasang kakaban dari injuk. Untuk setiap 1 kg induk betina diperlukan 5-7 kakaban berukuran panjang 1 m dan lebar 25-50 cm.

Sebelum dilepas ke kolam pemijahan, induk terpilih yang akan dipijahkan disuntikkan kelenjar hipofisis terlebih dahulu. Kelenjar hipofisis dapat berasal dari ikan lele atau ikan mas, atau dapat juga menggunakan hormon Ovaprim. Jika menggunakan kelenjar hipofisis dari donor ikan lele, jumlah ikan lele yang diperlukan adalah 1 kg per kg induk ikan lele betina yang akan disuntik. Jika menggunakan ikan mas, ikan donor yang diperlukan adalah sebanyak 2 kg untuk setiap kg induk betina yang akan disuntik. Jika menggunakan Ovaprim, dosis yang diperlukan 0,2 ml/kg induk betina yang akan dipijahkan. Untuk induk ikan lele jantan, dosisnya setengah dosis induk betina. Penyuntikan dilakukan secara instramuskuler (di bawah otot) pada bagian punggung ikan.

Sesuai namanya, pemijahan semi-alami terjadi setelah induk yang disuntik hormon dilepas ke wadah pemijahan. Induk akan terangsang untuk memijah akibat dorongan hormon, selanjutnya induk betina akan mengeluarkan telur yang segera dibuahi sperma induk jantan. Pemijahan (ovulasi atau pengeluaran telur) ini terjadi secara alami. Berdasarkan pengalaman, biasanya ovulasi terjadi 10-14 jam setelah penyuntikan. Setelah induk selesai memijah, telur yang menempel di kakaban diangkat dan diteteskan di tempat lain. Sementara itu, induk segera dikembalikan ke tempat pemeliharaan induk seperti semula. Jika nanti induk sudah matang gonad (siap memijah), induk dapat segera dipijahkan kembali.

Pemijahan Buatan (Induced Breeding)

Pemijahan secara buatan atau yang biasa disebut induced breeding ini hampir seluruh proses pemijahannya terjadi berkat campur tangan manusia. Mulai dari proses perangsangan yang dilakukan dengan penyuntikan hormon atau kelenjar hipofisis, sampai pengeluaran telur (stripping) dan pencampuran sperma (proses pembuangan), semua dilakukan sepenuhnya oleh manusia. Kegiatan ini memerlukan ketekunan dan kehati-hatian agar berhasil.

– Persiapan Peralatan Penyuntikan.

Sebelum penyuntikan, peralatan yang perlu dipersiapkan, yaitu spuit atau jarum suntik, kapas, gunting, baskom, pisau cutter, bulu ayam, dan obat-obatan kimia seperti akuabides (air suling atau air murni), NaCI, serta hormon perangsang pemijahan (Ovaprim).

– Perhitungan Dosis.

Perhitungan dosis mengacu kepada perhitungan seperti berikut: Jika bobot tubuh induk yang akan dipijahkan seberat 9,0 kg dengan jumlah 12 ekor, berarti dosis Ovaprim yang disiapkan sebanyak 0,2 ml/kg betina atau total jumlahnya adalah 0,2 x 9,0 = 1,8 ml (pengambilan 1 Ovaprim). Kemudian dosis Campuran: 0,5 ml/ekor betina (Campuran = Ovaprim + NaCI 0,9%). Total jumlah Campuran: 0,5 x 12 + 6,0 ml (pengambilan 3 campuran). Adapun jumlah NaCI 0,9% diperoleh dengan mengurangi campuran dengan Ovaprim: 6,0 – 1,8 = 4,2 ml. Dengan demikian pengambilan 2 NaCI 0,9%.

– Pengambilan Kelenjar Hopofisis.

Jika menggunakan kelenjar hipofisis, ikan donor dapat berasal dari jenis ikan mas atau lele dumbo atau lele sangkuriang. Tidak ada syarat khusus bagi ikan donor yang akan diambil hipofisisnya tersebut. Yang penting, kondisi ikan sehat, tidak cacat, dan telah dewasa (berumur lebih dari 1 tahun). Penyuntikan dengan menggunakan kelenjar hipofisis cukup satu dosis, artinya berat ikan donor yang akan diambil kelenjar hipofisisnya sama dengan berat induk lele sangkuriang yang akan disuntik.

Cara pengambilan kelenjar hipofisis dari donor ikan lele :

  • Pilih dan timbang ikan lele yang akan dijadikan donor, yakni lele dumbo atau lele sangkuriang. Jumlah beratnya harus sesuai dengan berat induk lele sangkuriang yang akan dipijahkan.
  • Potong lele donor yang terpilih tepat pada bagian batas kepala dengan badan.
  • Belah kepala ikan lele dari arah bukaan mulit, bersihkan dari bercak darah.
  • Gunakan tang untuk mengangkat tulang penutup hipofisis dan ambil kelenjar dengan menggunakan pinset. Kelenjar hipofisis berbentuk bulat kecil berwarna putih kemerahan.
  • Masukkan kelenjar yang sudah diambil menggunakan pinset ke dalam gelas penggerus dan hancurkan dengan penggerus.
  • Tambahkan pelarut akuabides sebanyak 1-2 cc ke dalam gelas penggerus. Mesin sentrifuga (pemusing) dapat digunakan untuk mengaduk larutan hingga benar-benar tercampur.
  • Diamkan kelenjar hipofisis agar bagian yang tidak bisa hancur mengendap di dasar wadah.
  • Selanjutnya, ambil cairan hipofisis menggunakan spuit (alat injeksi atau alat suntik), dan larutan siap disuntikkan ke induk lele sangkuriang.

Cara pengambilan kelenjar hipofisis dari donor ikan mas :

  • Timbang ikan donor (ikan mas) yang terpilih untuk memastikan beratnya sama dengan berat induk ikan lele sangkuriang yang akan disuntik.
  • Potong ikan mas tepat pada bagian batas antara kepala dan badan.
  • Belah bagian atas kepala dari arah lubang hidung ke belakang.
  • Angkat bagian otak besar menggunakan pinset, lalu bersihkan dengan kapas atau tisu.
  • Ambil kelenjar hipofisis menggunakan pinset dengan hati-hati, masukkan ke dalam gelas penggerus.
  • Gerus kelenjar sampai hancur lalu tambahkan akuabides sebagai pelarut sebanyak 1-2 cc.
  • Gunakan mesin sentrifuga atau pengaduk/pemusing (jika ad), dan biarkan selama 3 menit sampai ada bagian yang mengendap.
  • Ambil larutan kelenjar hipofisis dengan jarum suntik, larutan siap untuk disuntikkan ke induk lele sangkuriang.

– Penyuntikan.

Penyuntikan induk dilakukan pada pagi atau sore hari agar ikan tidak medah stres. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung, atau pada bagian daging yang paling tebal secara intramuskuler (di dalam otot). Jarum suntik yang digunakan sebaiknya jangan terlalu besar. Untuk induk dengan berat 1 kg dapat menggunakan jarum suntik ukuran 1 ml. Penyuntikan dilakukan dengan memiringkan spuit 45 ke arah depan atau belakang punggung induk lele sedalam 2 cm.

– Pengambilan Sperma.

Cara pengambilan sperma induk jantan :

  • Matikan induk lele jantan dan letakkan telentang di atas meja. Kemudian buka rongga perut atau lakukan pembedahan perut menggunakan gunting tajam.
  • Keluarkan bagian usus ke arah samping sehingga akan terlihat sperma berwarna kuning agak merah jambu.
  • Ambil sperma menggunakan tisu atau kertas kering dan usahakan jangan sampai kena air. Jika terkena air, sperma bisa menjadi tidak aktif.

– Pengenceran Sperma.

Sperma yang sudah dikeluarkan perlu diencerkan agar mudah dicampurkan dengan telur induk betina yang akan dibuahi. Cara pengenceran :

  • Siapkan wadah untuk menampung sperma, misalnya gelas ukur atau cawan yang bersih dan kering.
  • Gunting kantong sperma hingga sperma keluar dan mencair dengan sendirinya.
  • Encerkan larutan sperma dengan garam fisiologis atau NaCI sebanyak 5 ml.
  • Jika tidak langsung digunakan, simpan larutan sperma pada suhu 4 derajat C dalam alat pendingin (refrigerator) selama 2 hari.

– Pengurutan Telur/Stripping.

  • Induk betina yang telah disuntik akan mengalami ovulasi sehingga mudah di-stripping atau dikeluarkan telurnya dengan mengurut perut ke arah lubang genital. Stripping dilakukan 8-12 jam setelah penyuntikan atau tergantung suhu air. Makin dingin suhu air, proses ovulasi akan semakin lambat. Langkah stripping induk betina :
  • Tangkap induk betina menggunakan sair atau alat penangkap lainnya dengan hati-hati. Usahakan induk tidak ada yang luka atau cacat.
  • Sediakan wadah kering berupa baskom untuk tempat menampung telur. Keluarkan telur lele sangkuriang dengan mengurut bagian perut ke arah genital secara perlahan. Lalu tampung telur di dalam baskom yang telah disediakan.

– Proses Pembuahan.

Dalam pembuahan buatan, pencampuran sperma dan telur dilakukan dengan menggunakan bulu ayam yang sudah dibersihkan dengan cara disapukan secara merata. Kemudian air ditambahkan sedikit demi sedikit hingga semua telur dan sperma tercampur dan terbuahi dengan sempurna.

– Penebaran dan Penetasan Telur.

Telur yang telah dibuahi selanjutnya diteteskan pada bak permanen atau wadah lain (akuarium besar atau bak fiberglass) yang telah disiapkan terlebih dahulu. Air yang digunakan untuk penetasan harus air bersih dan jernih yang berasal dari sumur pompa. Sebaiknya air tersebut sudah diendapkan terlebih dahulu selama 1 malam untuk menghindari adanya gas atau senyawa beracun. Penetasan telur membutuhkan kandungan oksigen tinggi. Untuk meningkatkan kandungan oksigen, kolam dapatdiberi aliran air atau dipasangi aerator. Pemijahan buatan tidak memerluka kakaban dari injuk sebagai tempat penempelan telur. Makanya telur yang ditetaskan ditebarkan secara merata pada dasar bak atau di atas tray dari kain hapa halus. Setiap meter persegi dasar bak dapat ditebari telur sebanyak 75.000 butir. Lama penetasan sangat dipengaruhi suhu perairan. Apabila suhu air berkisar antara 22 derajat C – 25 derajat C, telur akan menetas dalam rentang waktu 30-26 jam. Derajat penetasan telur bisa mencapai lebih dari 95%. Artinya, jumlah telur yang gagal menetas sangat kecil sekali, yakni sekitar 5% saja dari total keseluruhan telur yang ditetaskan.

Larva dari telur yang menetas dapat dibiarkan berada di tempat penetasan atau dipelihara di tempat penetasan selama beberapa hari. Biasanya larva akan bergerombol di bagian dasar atau di setiap sudut bak penetasan. Pada hari ke 2-3 larva sudah mulai terlihat berenang dan berwarna hitam. Larva yang telah berumur 5 hari dapat tetap dipelihara di tempat tersebut atau dapat pula dipindahkan ke tempat lain atau langsung dijual ke daerah lain. Agar kondisi larva tetap bagus , pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari saat suhu udara dan air masih rendah. Untuk memanen larva dapat dipakai alat tangkap yang disebut scoopnet.

Demikian untuk informasi tentang Cara Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Yang Baik dan Benar yang dapat Om Jun sampaikan kepada anda semua. Bagi anda yang ingin mengetahui bagaimana Cara Budidaya Ikan yang lainnya bisa anda simak pada artikel sebelumnya karena Om jun telah menyajikannya untuk anda semua. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada anda semua yang sudah berkunjung ke website saya ini untuk mengetahui Cara Budidaya Ikan dan Harga Alat Pancing. Semoga artikel Tips dan Cara Ikan Lele Sangkuriang ini dapat bermanfaat untuk anda.

Lihat Juga:

cangkilung buat galatama lele, umpan galatama lele daging giling dan pf 1000, cangkilung biat galatama lele, jejer timbangan, obat perangsang lele, racikan terur ikan galatama lele, pur babi untuk pakan lele, kolam pancing lele sidoarjo, jual bibit lele pandaan, bisakah telur tawon buat manci g lele

Cara Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Yang Baik dan Benar
| junpancing
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==